KI-Kunst: NEGERI CAHAYA YANG LUPAKAN JALAN PULANG

Erstellt von

Inhaltsdetails

Mediendetails

Nutzerinteraktion

Über dieses KI-Werk

Beschreibung

Erstellungseingabe

Engagement

avatar

NEGERI CAHAYA YANG LUPAKAN JALAN PULANG
—— Ende ——
Entdecken Mehr Geschichten oder starte damit, deine eigenen zu erstellen!

NEGERI CAHAYA YANG LUPAKAN JALAN PULANG

Di desa kecil Sendang Wening, yang dikelilingi hutan lebat yang jarang disentuh manusia, ada aturan lama yang diturunkan dari nenek moyang: jangan pernah masuk hutan pas sore jam 5. Semua warga patuh, karena katanya ada "yang tidak terlihat" yang akan menangkap siapa pun yang melanggar. Tapi Abiyu, pemuda berusia 20 tahun yang selalu penuh penasaran, sama sekali tidak percaya. "Sama-sama omong kosong doang, Raf," ujar Abiyu sambil memegang tongkat bambu untuk menebang semak. Rafa, temannya sebayanya yang lebih pemberani, hanya tersenyum sinis. "Yaudah, kalo takut ya pulang aja. Aku cuma pengen lihat apa yang ada di dalam jauh-jauh." Mereka berdua memasuki hutan tepat jam 4.45 sore. Udara jadi dingin dan sepi, hanya suara kicau burung yang perlahan menghilang. Sampai tiba-tiba, saat matahari mulai tenggelam dan langit berubah warna oranye kemerahan, mereka melihat sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya: sebuah pintu kayu tua yang bergelombang, dengan ukiran bintang yang terasa aneh. Pintu itu berdiri sendirian di tengah hutan, tanpa tembok atau rumah di sekitarnya. "Woah... apa ini?" bisik Rafa, matanya melebar. Abiyu mau mendekat, tapi tiba-tiba terdengar suara teriak dari balik semak. "Abiyu! Rafa! Dimana loe berdua?" Itu suara Rania, adik Abiyu yang berusia 17 tahun, sama Ardi, temannya sepermainan yang 19 tahun. Mereka datang nyari karena khawatir. "Lo berdua gila ya? Masuk hutan jam segini!" seru Rania sambil menepuk bahu Abiyu. Tapi saat dia melihat pintu itu, suaranya terhenti. "Apa... itu?" Tanpa sadar, keempat mereka berjalan mendekati pintu. Saat Abiyu menyentuh gagang kayu yang dingin, pintu itu terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan cahaya lembut yang menyala dari dalam. Mereka terpesona dan secara tidak sengaja melangkah masuk. Begitu semua kaki mereka ada di dalam, pintu itu menutup dengan bunyi thump yang keras. Mereka kaget dan berbalik cepat, tapi pintu sudah hilang. Yang ada cuma tembok semak tebal yang tidak bisa dilewati. "Yah, ini gimana?" ujar Ardi dengan suara cemas. Mereka melihat ke sekeliling. Mereka ada di dunia yang sama sekali berbeda. Langit berwarna ungu muda dengan bintang-bintang yang sudah terlihat meskipun cahaya sore masih ada. Pohon-pohon di sekitarnya memiliki daun yang bercahaya seperti lilin, dan udara terasa segar dengan bau bunga yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Jalanan yang dipenuhi batu bata kecil membujur ke kejauhan, menuju gunung yang puncaknya diselimuti awan. Mereka mulai berjalan, harap menemukan jalan pulang. Tak lama, mereka mendengar suara langkah dari balik bukit. Seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang yang terikat, berusia sekitar 22 tahun, muncul dari balik gua. Dia memakai baju kain yang sederhana dan memiliki mata yang cerah. "Kalian tersesat ya?" tanyanya dengan suara lembut. Namanya Ara – dia tinggal di gua itu sudah beberapa bulan, setelah juga tersesat masuk pintu yang sama. "Dunia ini namanya Negeri Cahaya Tertinggal. Hanya ada satu cara keluar dari sini: menemukan Batu Cahaya Utama yang hilang. Tanpa itu, pintu pulang tidak akan muncul lagi." Mereka terkejut. Lalu, dari arah lain, datang kelompok lain yang juga tampak bingung. Ada Alina, gadis 18 tahun yang tersesat dari desa lain, dengan rambut pirang pendek dan wajah ceria. Di sampingnya ada Imam, pria 25 tahun yang tampak bijak dengan jenggot tipis, dan Arhan, temannya yang 21 tahun – cerdas tapi pemalu, selalu membawa buku catatan kecil. Di belakang mereka ada Evan, pemuda 20 tahun yang suka eksplorasi dengan senyum ceria, sama Arga, saudara laki-lakinya yang 19 tahun dan terlihat sedikit cuek. "Kalian juga tersesat karena pintu itu?" tanya Imam, melihat Abiyu dan temannya. Ketika mereka mengiyakan, Imam mengangguk. "Lebih baik kita bergabung. Satu-satu sulit menemukan Batu Cahaya Utama. Kita lebih kuat bersama." Semua setuju. Mereka mulai berjalan menuju gunung terdekat yang katanya ada tanda-tanda batu itu. Di jalan, mereka menghadapi makhluk-makhluk kecil yang bulu-bulu, berukuran seperti kucing, yang selalu mengganggu – memakan makanan mereka, menarik kain baju, atau membuat jalanan jadi licin. Meskipun tidak berbahaya, mereka cukup menyebalkan. Alina dan Rania malah mulai tertawa ketika salah satu makhluk itu mencuri topi Arga dan berlari ke atas pohon. Saat matahari mulai benar-benar tenggelam dan dunia ini dipenuhi cahaya dari pohon-pohonnya, mereka akhirnya mencapai puncak bukit pertama. Dari situ, mereka bisa melihat jalur ke gunung yang lebih tinggi. Tapi tiba-tiba, angin berubah dingin. Mereka melihat bayangan makhluk yang jauh lebih besar di kejauhan – tingginya lebih dari 2 meter, dengan sayap yang lebar dan mata yang menyala seperti bara. Lalu, suara yang dalam dan mengerikan terdengar dari arah makhluk itu: "Pulang... sebelum terlambat..." Semua mereka berdiri beku, mata melebar. Mereka harus memutuskan: lanjutkan perjalanan ke gunung, atau coba cari tempat bersembunyi dan pulang ke arah yang sudah lewat?

about 2 months ago

7
    Online