Seni AI: Di sebuah desa terpencil bernama Lembah Nadar, yang terletak di antara dua tebing raksasa berbalut hutan pinus purba, hidup seorang pemuda bernama Rayan. Setiap pagi, kabut tipis menyelimuti lembah itu seperti selendang sutra putih, membuat atap-atap rumah terlihat seperti pulau kecil yang mengapung di lautan dingin. Rayan selalu bangun sebelum matahari muncul, sebab hanya pada saat itulah ia bisa mendengar “napas” lembah—suara samar dari sesuatu yang entah berasal dari tanah, angin, atau sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Rayan tinggal sendirian di rumah kayu warisan ayahnya, tepat di tepi sungai yang airnya bening seperti kaca dan memantulkan warna kehijauan dari lumut-lumut di dasar. Setiap papan rumah itu penuh ukiran motif kuno: lingkaran bertumpuk, mata bermurah, garis-garis yang berputar seperti pusaran air. Ayahnya dulu selalu berkata bahwa ukiran itu bukan sekadar hiasan, melainkan penanda agar “mereka” tahu bahwa rumah itu aman untuk dilewati. Rayan tak pernah tahu siapa “mereka”, sebab ayahnya meninggal ketika ia masih kecil, meninggalkan hanya ukiran dan larangan: jangan pernah keluar saat malam tanpa membawa lentera biru. Suatu hari, ketika Rayan sedang memeriksa jaring ikan di sungai, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya meloncat. Sebuah batu lonjong sebesar telapak tangan, bersinar dengan cahaya lembut kehijauan, seperti jantung kecil yang berdenyut. Batu itu tidak tenggelam, melainkan mengapung pelan mengikuti arus. Ketika Rayan menyentuhnya, air di sekitarnya tiba-tiba menjadi hangat, dan bayangan pepohonan di permukaan sungai tampak bergerak seolah-olah hidup. Saat malam tiba, lembah terasa berbeda. Udara yang biasanya dingin berubah menjadi berat, seakan dipenuhi sesuatu yang tak terlihat. Rayan duduk di dekat perapian sambil menatap batu yang ia letakkan di atas meja. Cahaya hijau itu berdenyut semakin cepat. Tiba-tiba, dari luar jendela terdengar suara langkah—sangat pelan, sangat teratur, seperti seseorang yang sengaja menyamakan napas dengan bisikan angin. Rayan memegang lentera biru ayahnya, yang biasanya tak pernah ia gunakan, dan perlahan membuka pintu. Di luar, kabut malam begitu tebal hingga hanya jarak satu
Dibuat oleh cozy panda
Detail Konten
Informasi Media
Interaksi Pengguna
Tentang Karya AI ini
Deskripsi
Prompt Pembuatan
Keterlibatan
cozy panda

cozy panda
Di sebuah desa terpencil bernama Lembah Nadar, yang terletak di antara dua tebing raksasa berbalut hutan pinus purba, hidup seorang pemuda bernama Rayan. Setiap pagi, kabut tipis menyelimuti lembah itu seperti selendang sutra putih, membuat atap-atap rumah terlihat seperti pulau kecil yang mengapung di lautan dingin. Rayan selalu bangun sebelum matahari muncul, sebab hanya pada saat itulah ia bisa mendengar “napas” lembah—suara samar dari sesuatu yang entah berasal dari tanah, angin, atau sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Rayan tinggal sendirian di rumah kayu warisan ayahnya, tepat di tepi sungai yang airnya bening seperti kaca dan memantulkan warna kehijauan dari lumut-lumut di dasar. Setiap papan rumah itu penuh ukiran motif kuno: lingkaran bertumpuk, mata bermurah, garis-garis yang berputar seperti pusaran air. Ayahnya dulu selalu berkata bahwa ukiran itu bukan sekadar hiasan, melainkan penanda agar “mereka” tahu bahwa rumah itu aman untuk dilewati. Rayan tak pernah tahu siapa “mereka”, sebab ayahnya meninggal ketika ia masih kecil, meninggalkan hanya ukiran dan larangan: jangan pernah keluar saat malam tanpa membawa lentera biru. Suatu hari, ketika Rayan sedang memeriksa jaring ikan di sungai, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya meloncat. Sebuah batu lonjong sebesar telapak tangan, bersinar dengan cahaya lembut kehijauan, seperti jantung kecil yang berdenyut. Batu itu tidak tenggelam, melainkan mengapung pelan mengikuti arus. Ketika Rayan menyentuhnya, air di sekitarnya tiba-tiba menjadi hangat, dan bayangan pepohonan di permukaan sungai tampak bergerak seolah-olah hidup. Saat malam tiba, lembah terasa berbeda. Udara yang biasanya dingin berubah menjadi berat, seakan dipenuhi sesuatu yang tak terlihat. Rayan duduk di dekat perapian sambil menatap batu yang ia letakkan di atas meja. Cahaya hijau itu berdenyut semakin cepat. Tiba-tiba, dari luar jendela terdengar suara langkah—sangat pelan, sangat teratur, seperti seseorang yang sengaja menyamakan napas dengan bisikan angin. Rayan memegang lentera biru ayahnya, yang biasanya tak pernah ia gunakan, dan perlahan membuka pintu. Di luar, kabut malam begitu tebal hingga hanya jarak satu
??
Furryabout 2 months ago