Seni AI: "Saudara Tua Penuh Janji" dengan karakter Arif (pemuda desa yang awalnya antusias). 4-Panel Strip: Janji "Saudara Tua" | Panel | Visual (Gaya Manga) | Teks Percakapan (Ala Manga) | 1 | Setting: Desa, tahun 1942. Arif (mata berbinar, penuh semangat) menatap poster besar bergambar tentara Jepang yang tersenyum di samping bendera Merah Putih. | Arif (Mengepal tangan, balon bicara bersemangat): "Lihat, Bu! Jepang datang! 'Saudara Tua' akan bebaskan kita dari Belanda! Asia untuk Asia!" | | 2 | Setting: Beberapa bulan kemudian. Arif (kini kurus, seragam Seinendan lusuh) berdiri di barak. Ia melihat temannya hanya makan sebakul kecil nasi jagung. | Arif (Narasi di thought bubble kecil): Mereka bilang kemakmuran... Tapi kenapa beras kami diambil? Teman (Wajah kelaparan): "Nasi ini... tidak cukup untuk bekerja keras sepanjang hari, Arif." | | 3 | Setting: Sebuah lapangan. Arif kaget melihat tentara Jepang memukuli seorang warga lokal yang menolak menyerahkan hasil panennya (kinrohosi). Ekspresi Arif berubah menjadi marah dan kecewa. | Tentara Jepang (Berteriak keras, balon bicara tajam): "Ini perintah Dai Nippon! Serahkan semuanya! Baka! (Bodoh!)" Arif (Mata melotot, menahan diri): "T-tidak mungkin... Ini bukan pembebasan!" | | 4 | Setting: Malam hari. Arif duduk sendirian di gubuk, poster di panel 1 kini robek dan kotor di sudut. Ia menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, penuh kesadaran pahit. | Arif (Berbisik, suara rendah dan getir): "Mereka sama saja. Hanya penjajah dengan wajah yang berbeda." Arif (Narasi dalam thought bubble gelap, penutup): "Saudara Tua... ternyata hanya topeng penguasa." |

Dibuat oleh sparkly sunflower

Detail Konten

Informasi Media

Interaksi Pengguna

Tentang Karya AI ini

Deskripsi

Prompt Pembuatan

Keterlibatan

sparkly sunflower

sparkly sunflower

 "Saudara Tua Penuh Janji" dengan karakter Arif (pemuda desa yang awalnya antusias).
4-Panel Strip: Janji "Saudara Tua"
| Panel | Visual (Gaya Manga) | Teks Percakapan (Ala Manga) 
| 1 | Setting: Desa, tahun 1942. Arif (mata berbinar, penuh semangat) menatap poster besar bergambar tentara Jepang yang tersenyum di samping bendera Merah Putih. | Arif (Mengepal tangan, balon bicara bersemangat): "Lihat, Bu! Jepang datang! 'Saudara Tua' akan bebaskan kita dari Belanda! Asia untuk Asia!" |
| 2 | Setting: Beberapa bulan kemudian. Arif (kini kurus, seragam Seinendan lusuh) berdiri di barak. Ia melihat temannya hanya makan sebakul kecil nasi jagung. | Arif (Narasi di thought bubble kecil): Mereka bilang kemakmuran... Tapi kenapa beras kami diambil? Teman (Wajah kelaparan): "Nasi ini... tidak cukup untuk bekerja keras sepanjang hari, Arif." |
| 3 | Setting: Sebuah lapangan. Arif kaget melihat tentara Jepang memukuli seorang warga lokal yang menolak menyerahkan hasil panennya (kinrohosi). Ekspresi Arif berubah menjadi marah dan kecewa. | Tentara Jepang (Berteriak keras, balon bicara tajam): "Ini perintah Dai Nippon! Serahkan semuanya! Baka! (Bodoh!)" Arif (Mata melotot, menahan diri): "T-tidak mungkin... Ini bukan pembebasan!" |
| 4 | Setting: Malam hari. Arif duduk sendirian di gubuk, poster di panel 1 kini robek dan kotor di sudut. Ia menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, penuh kesadaran pahit. | Arif (Berbisik, suara rendah dan getir): "Mereka sama saja. Hanya penjajah dengan wajah yang berbeda." Arif (Narasi dalam thought bubble gelap, penutup): "Saudara Tua... ternyata hanya topeng penguasa." |
—— Tamat ——

"Saudara Tua Penuh Janji" dengan karakter Arif (pemuda desa yang awalnya antusias). 4-Panel Strip: Janji "Saudara Tua" | Panel | Visual (Gaya Manga) | Teks Percakapan (Ala Manga) | 1 | Setting: Desa, tahun 1942. Arif (mata berbinar, penuh semangat) menatap poster besar bergambar tentara Jepang yang tersenyum di samping bendera Merah Putih. | Arif (Mengepal tangan, balon bicara bersemangat): "Lihat, Bu! Jepang datang! 'Saudara Tua' akan bebaskan kita dari Belanda! Asia untuk Asia!" | | 2 | Setting: Beberapa bulan kemudian. Arif (kini kurus, seragam Seinendan lusuh) berdiri di barak. Ia melihat temannya hanya makan sebakul kecil nasi jagung. | Arif (Narasi di thought bubble kecil): Mereka bilang kemakmuran... Tapi kenapa beras kami diambil? Teman (Wajah kelaparan): "Nasi ini... tidak cukup untuk bekerja keras sepanjang hari, Arif." | | 3 | Setting: Sebuah lapangan. Arif kaget melihat tentara Jepang memukuli seorang warga lokal yang menolak menyerahkan hasil panennya (kinrohosi). Ekspresi Arif berubah menjadi marah dan kecewa. | Tentara Jepang (Berteriak keras, balon bicara tajam): "Ini perintah Dai Nippon! Serahkan semuanya! Baka! (Bodoh!)" Arif (Mata melotot, menahan diri): "T-tidak mungkin... Ini bukan pembebasan!" | | 4 | Setting: Malam hari. Arif duduk sendirian di gubuk, poster di panel 1 kini robek dan kotor di sudut. Ia menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, penuh kesadaran pahit. | Arif (Berbisik, suara rendah dan getir): "Mereka sama saja. Hanya penjajah dengan wajah yang berbeda." Arif (Narasi dalam thought bubble gelap, penutup): "Saudara Tua... ternyata hanya topeng penguasa." |

3 months ago

0
    Daring