AI 아트: Narasi: Di pinggiran kota, hiduplah seorang anak bernama Lintang. Lintang (berlatih sambil menarik busur): “Aku harus terus berlatih! Suatu hari aku akan berdiri di podium dan mengibarkan bendera merah putih!” Ibu (dari dapur): “Lintang! Sudah sore, bantu ibu jaga adik dan belajar dulu. Panahan itu hanya akan jadi hobi saja.” Lintang (pelan, menunduk): “Baik, Bu…” Narasi: Lintang menahan tangis, namun esoknya ia tetap berlatih diam-diam di halaman belakang. Halaman 2: Kekhawatiran Ibu Ibu (berbicara sendiri): “Aku hanya takut impian Lintang membuatnya lupa pada sekolah…” Ayah (menenangkan): “Jangan khawatir, Bi. Selama kita mendukung, ia akan temukan jalannya sendiri.” Narasi: Dukungan Sang Ayah membuat semangat Lintang kembali tumbuh. Halaman 3: Semangat yang Tak Padam Narasi: Hari demi hari, Lintang terus berlatih sepulang sekolah. Lintang (bernapas terengah): “Aku pasti bisa! Aku ingin membanggakan Ayah dan Ibu.” Guru olahraga (mendekat): “Lintang, kamu punya bakat luar biasa. Mau ikut lomba antar sekolah?” Lintang (terkejut dan senang): “Benarkah, Pak? Saya mau!” Halaman 4: Lomba Pertama Narasi: Lintang mulai mengikuti perlombaan tingkat sekolah. Guru: “Ingat, fokus dan percaya diri, Lintang.” Lintang (menarik busur): “Untuk Ayah dan Ibu!” Narasi: Panah itu melesat cepat menuju target… Penonton: “Kena tepat di tengah!” Lintang (tersenyum): “Aku berhasil!” Halaman 5: Rintangan dan Semangat Baru Narasi: Seiring waktu, latihan yang berat membuat Lintang sering kelelahan. Teman: “Lintang, kamu nggak istirahat?” Lintang: “Aku harus terus berusaha. Mimpi tidak bisa menunggu.” Narasi: Perlahan, kerja kerasnya membuahkan hasil. Lintang mulai dikenal di berbagai lomba. Halaman 6: Menuju Kejuaraan Nasional Guru: “Lintang, kamu terpilih mewakili provinsi di event nasional!” Lintang (tak percaya): “Serius, Pak? Terima kasih!” Ibu (menangis bahagia): “Maafkan Ibu yang dulu tak percaya, Nak.” Lintang (memeluk ibu): “Tidak apa-apa, Bu. Justru karena Ibu, aku jadi kuat.” Halaman 7: Di Panggung Dunia Narasi: Kini Lintang berdiri di podium, bendera merah putih berkibar di belakangnya. Lintang (dalam hati): “Dari sudut kota kecil, aku bisa sampai ke panggung dunia.” Narasi: Cerita Lintang membuktikan bahwa mimpi tak mengenal batas. Teks penutup: “Busur hanyalah alat sederhana, tapi tekad dan kerja keraslah yang mengantar Lintang ke puncak.” (Berdasarkan kisah nyata)

생성자 bouncy unicorn

콘텐츠 세부 정보

미디어 정보

사용자 상호작용

이 AI 작품에 대하여

설명

창작 프롬프트

참여

bouncy unicorn

bouncy unicorn

Narasi: Di pinggiran kota, hiduplah seorang anak bernama Lintang.
Lintang (berlatih sambil menarik busur): “Aku harus terus berlatih! Suatu hari aku akan berdiri di podium dan mengibarkan bendera merah putih!”
Ibu (dari dapur): “Lintang! Sudah sore, bantu ibu jaga adik dan belajar dulu. Panahan itu hanya akan jadi hobi saja.”
Lintang (pelan, menunduk): “Baik, Bu…”
Narasi: Lintang menahan tangis, namun esoknya ia tetap berlatih diam-diam di halaman belakang.
Halaman 2: Kekhawatiran Ibu
Ibu (berbicara sendiri): “Aku hanya takut impian Lintang membuatnya lupa pada sekolah…”
Ayah (menenangkan): “Jangan khawatir, Bi. Selama kita mendukung, ia akan temukan jalannya sendiri.”
Narasi: Dukungan Sang Ayah membuat semangat Lintang kembali tumbuh.
Halaman 3: Semangat yang Tak Padam
Narasi: Hari demi hari, Lintang terus berlatih sepulang sekolah.
Lintang (bernapas terengah): “Aku pasti bisa! Aku ingin membanggakan Ayah dan Ibu.”
Guru olahraga (mendekat): “Lintang, kamu punya bakat luar biasa. Mau ikut lomba antar sekolah?”
Lintang (terkejut dan senang): “Benarkah, Pak? Saya mau!”
Halaman 4: Lomba Pertama
Narasi: Lintang mulai mengikuti perlombaan tingkat sekolah.
Guru: “Ingat, fokus dan percaya diri, Lintang.”
Lintang (menarik busur): “Untuk Ayah dan Ibu!”
Narasi: Panah itu melesat cepat menuju target…
Penonton: “Kena tepat di tengah!”
Lintang (tersenyum): “Aku berhasil!”
Halaman 5: Rintangan dan Semangat Baru
Narasi: Seiring waktu, latihan yang berat membuat Lintang sering kelelahan.
Teman: “Lintang, kamu nggak istirahat?”
Lintang: “Aku harus terus berusaha. Mimpi tidak bisa menunggu.”
Narasi: Perlahan, kerja kerasnya membuahkan hasil. Lintang mulai dikenal di berbagai lomba.
Halaman 6: Menuju Kejuaraan Nasional
Guru: “Lintang, kamu terpilih mewakili provinsi di event nasional!”
Lintang (tak percaya): “Serius, Pak? Terima kasih!”
Ibu (menangis bahagia): “Maafkan Ibu yang dulu tak percaya, Nak.”
Lintang (memeluk ibu): “Tidak apa-apa, Bu. Justru karena Ibu, aku jadi kuat.”
Halaman 7: Di Panggung Dunia
Narasi: Kini Lintang berdiri di podium, bendera merah putih berkibar di belakangnya.
Lintang (dalam hati): “Dari sudut kota kecil, aku bisa sampai ke panggung dunia.”
Narasi: Cerita Lintang membuktikan bahwa mimpi tak mengenal batas.
Teks penutup:
“Busur hanyalah alat sederhana, tapi tekad dan kerja keraslah yang mengantar Lintang ke puncak.”
(Berdasarkan kisah nyata)
—— 끝 ——

Narasi: Di pinggiran kota, hiduplah seorang anak bernama Lintang. Lintang (berlatih sambil menarik busur): “Aku harus terus berlatih! Suatu hari aku akan berdiri di podium dan mengibarkan bendera merah putih!” Ibu (dari dapur): “Lintang! Sudah sore, bantu ibu jaga adik dan belajar dulu. Panahan itu hanya akan jadi hobi saja.” Lintang (pelan, menunduk): “Baik, Bu…” Narasi: Lintang menahan tangis, namun esoknya ia tetap berlatih diam-diam di halaman belakang. Halaman 2: Kekhawatiran Ibu Ibu (berbicara sendiri): “Aku hanya takut impian Lintang membuatnya lupa pada sekolah…” Ayah (menenangkan): “Jangan khawatir, Bi. Selama kita mendukung, ia akan temukan jalannya sendiri.” Narasi: Dukungan Sang Ayah membuat semangat Lintang kembali tumbuh. Halaman 3: Semangat yang Tak Padam Narasi: Hari demi hari, Lintang terus berlatih sepulang sekolah. Lintang (bernapas terengah): “Aku pasti bisa! Aku ingin membanggakan Ayah dan Ibu.” Guru olahraga (mendekat): “Lintang, kamu punya bakat luar biasa. Mau ikut lomba antar sekolah?” Lintang (terkejut dan senang): “Benarkah, Pak? Saya mau!” Halaman 4: Lomba Pertama Narasi: Lintang mulai mengikuti perlombaan tingkat sekolah. Guru: “Ingat, fokus dan percaya diri, Lintang.” Lintang (menarik busur): “Untuk Ayah dan Ibu!” Narasi: Panah itu melesat cepat menuju target… Penonton: “Kena tepat di tengah!” Lintang (tersenyum): “Aku berhasil!” Halaman 5: Rintangan dan Semangat Baru Narasi: Seiring waktu, latihan yang berat membuat Lintang sering kelelahan. Teman: “Lintang, kamu nggak istirahat?” Lintang: “Aku harus terus berusaha. Mimpi tidak bisa menunggu.” Narasi: Perlahan, kerja kerasnya membuahkan hasil. Lintang mulai dikenal di berbagai lomba. Halaman 6: Menuju Kejuaraan Nasional Guru: “Lintang, kamu terpilih mewakili provinsi di event nasional!” Lintang (tak percaya): “Serius, Pak? Terima kasih!” Ibu (menangis bahagia): “Maafkan Ibu yang dulu tak percaya, Nak.” Lintang (memeluk ibu): “Tidak apa-apa, Bu. Justru karena Ibu, aku jadi kuat.” Halaman 7: Di Panggung Dunia Narasi: Kini Lintang berdiri di podium, bendera merah putih berkibar di belakangnya. Lintang (dalam hati): “Dari sudut kota kecil, aku bisa sampai ke panggung dunia.” Narasi: Cerita Lintang membuktikan bahwa mimpi tak mengenal batas. Teks penutup: “Busur hanyalah alat sederhana, tapi tekad dan kerja keraslah yang mengantar Lintang ke puncak.” (Berdasarkan kisah nyata)

3 months ago

0
    온라인 상태