AI 아트: 📖 Naskah Komik Persahabatan – Langkah yang Sama Naya (narasi): “Dulu… aku dan Arka selalu berjalan di jalan yang sama. Pulang sekolah bareng, bercanda soal hal-hal sepele. Tapi akhir-akhir ini… sesuatu berubah.” Naya: “Ark, ikut aku ke ruang seni yuk.” Arka: tersenyum tipis “Nggak bisa, Nay. Latihan basket final sebentar lagi.” Naya (narasi): “Senyumnya terasa makin jauh dariku.” Teman Arka: “Latihan lagi sore ini, kapten?” Arka: “Iya, gas terus.” Naya (narasi): “Sekarang… dia sibuk dengan dunianya sendiri.” Arka (narasi): “Aku tahu dia kecewa. Tapi aku juga nggak bisa berhenti.” Naya: “Kamu berubah, Ark! Dulu kita cerita apa pun bareng. Sekarang? Aku bahkan nggak tahu kamu masih anggap aku sahabat atau bukan.” Arka: menahan emosi “Kamu pikir gampang jadi kapten basket?! Aku juga capek, Nay!” Arka: suara melembut “…Aku masih peduli. Kamu aja yang nggak lihat.” Naya (narasi): “Untuk pertama kalinya… kami saling membelakangi.” Naya: “Aaah!” Arka: “Pegangan! Kalau aku telat, kamu bisa jatuh.” Naya: terkejut “Kamu… masih peduli?” Arka: “Aku selalu peduli. Cuma… aku nggak tahu cara nunjukinnya.” Arka: duduk lelah di lapangan “Timku kalah… tapi aku lega. Karena kamu tadi semangatin aku.” Naya: “Aku selalu dukung kamu, Ark. Cuma kadang aku egois.” Arka: tersenyum “Kita sama-sama salah. Tapi… aku nggak mau kehilangan kamu.” Naya: tersenyum hangat “Janji ya… kita tetap sahabat?” Arka: “Janji.” Naya: “Akhirnya kita pulang bareng lagi.” Arka: menggoda “Tapi jangan manja ya. Aku nggak bisa gendong kalau kamu kecapekan.” Naya: manyun “Heh! Aku lebih kuat dari yang kamu kira.” Keduanya: tertawa bersama Naya (narasi penutup): “Persahabatan bukan soal selalu bersama… tapi soal tetap kembali melangkah di jalan yang sama.”
생성자 bouncy unicorn
콘텐츠 세부 정보
미디어 정보
사용자 상호작용
이 AI 작품에 대하여
설명
창작 프롬프트
참여
bouncy unicorn

bouncy unicorn
📖 Naskah Komik Persahabatan – Langkah yang Sama Naya (narasi): “Dulu… aku dan Arka selalu berjalan di jalan yang sama. Pulang sekolah bareng, bercanda soal hal-hal sepele. Tapi akhir-akhir ini… sesuatu berubah.” Naya: “Ark, ikut aku ke ruang seni yuk.” Arka: tersenyum tipis “Nggak bisa, Nay. Latihan basket final sebentar lagi.” Naya (narasi): “Senyumnya terasa makin jauh dariku.” Teman Arka: “Latihan lagi sore ini, kapten?” Arka: “Iya, gas terus.” Naya (narasi): “Sekarang… dia sibuk dengan dunianya sendiri.” Arka (narasi): “Aku tahu dia kecewa. Tapi aku juga nggak bisa berhenti.” Naya: “Kamu berubah, Ark! Dulu kita cerita apa pun bareng. Sekarang? Aku bahkan nggak tahu kamu masih anggap aku sahabat atau bukan.” Arka: menahan emosi “Kamu pikir gampang jadi kapten basket?! Aku juga capek, Nay!” Arka: suara melembut “…Aku masih peduli. Kamu aja yang nggak lihat.” Naya (narasi): “Untuk pertama kalinya… kami saling membelakangi.” Naya: “Aaah!” Arka: “Pegangan! Kalau aku telat, kamu bisa jatuh.” Naya: terkejut “Kamu… masih peduli?” Arka: “Aku selalu peduli. Cuma… aku nggak tahu cara nunjukinnya.” Arka: duduk lelah di lapangan “Timku kalah… tapi aku lega. Karena kamu tadi semangatin aku.” Naya: “Aku selalu dukung kamu, Ark. Cuma kadang aku egois.” Arka: tersenyum “Kita sama-sama salah. Tapi… aku nggak mau kehilangan kamu.” Naya: tersenyum hangat “Janji ya… kita tetap sahabat?” Arka: “Janji.” Naya: “Akhirnya kita pulang bareng lagi.” Arka: menggoda “Tapi jangan manja ya. Aku nggak bisa gendong kalau kamu kecapekan.” Naya: manyun “Heh! Aku lebih kuat dari yang kamu kira.” Keduanya: tertawa bersama Naya (narasi penutup): “Persahabatan bukan soal selalu bersama… tapi soal tetap kembali melangkah di jalan yang sama.”
3 months ago