ศิลปะ AI: Chapter 1 – Gang Sempit & Kopi Murah [Panel 1 – Wide Shot] Sebuah kota raksasa yang diselimuti kabut asap industri. Lampu neon berkedip-kedip di jalanan becek. Hujan tipis membasahi trotoar, memantulkan cahaya merah dan biru dari papan iklan. Narasi: Kota Langit Kelabu… tempat di mana uang menentukan hukum, dan kebenaran hanyalah barang dagangan. [Panel 2 – Medium Shot] Sebuah pintu kayu reyot di gang sempit. Catnya mengelupas, plakat kecil di atas pintu bertuliskan: "RAKA ALVARO – DETEKTIF SWASTA" dengan huruf yang pudar. Narasi: Dan di sudut paling kumuh dari kota ini… tinggal aku. [Panel 3 – Close Up] Raka, lelaki berusia akhir 20-an, rambut acak-acakan, mata lelah, mengenakan jas kusut dengan dasi longgar. Ia sedang duduk di meja kecil, memandangi secangkir kopi murahan. Raka (monolog): Kopi ini… pahitnya kayak tagihan sewa bulan ini. [Panel 4 – Dialogue] Telepon kuno di mejanya berdering. TRINGG… TRINGG… Raka mengangkat, masih setengah malas. Raka: "Detektif Raka… kalau ini soal suami kamu selingkuh, bayarannya tetap di muka." Suara di Telepon (misterius): "Aku punya kasus… tapi ini bukan soal perselingkuhan." [Panel 5 – Wide Shot] Pintu kantor terbuka perlahan. Masuklah seorang wanita bergaun hitam panjang, payung basah di tangannya. Wajahnya sebagian tertutup kerudung tipis. Narasi: Dan begitulah… semua cerita gila selalu dimulai dengan seorang wanita misterius. [Panel 6 – Medium Close] Wanita itu duduk, menatap Raka dengan mata tajam. Wanita: "Namaku Liora. Aku butuh bantuanmu untuk menemukan sesuatu… atau mungkin… menyelamatkan semuanya." [Panel 7 – Close Up Raka] Raka menaikkan satu alis, skeptis. Raka: "Kalau ‘menyelamatkan semuanya’ itu maksudnya menyelamatkan kucing kamu… tarifnya naik dua kali lipat." [Panel 8 – Cliffhanger] Liora meletakkan sebuah amplop cokelat di meja. Isinya: foto seorang pria yang wajahnya penuh darah, dan di belakangnya tertera catatan: "Jika kamu membaca ini, berarti waktumu tinggal 72 jam." Narasi: Saat itu, aku belum tahu… bahwa kasus ini akan menentukan kelangsungan hidup seluruh umat manusia di Bumi.

ผู้สร้าง

รายละเอียดของเนื้อหา

ข้อมูลของสื่อ

การตอบโต้ของผู้ใช้งาน

เกี่ยวกับงานศิลปะ AI นี้

คำบรรยาย

ข้อความเริ่มต้นการสร้าง

การมีส่วนร่วม

avatar

Chapter 1 – Gang Sempit & Kopi Murah [Panel 1 – Wide Shot] Sebuah kota raksasa yang diselimuti kabut asap industri. Lampu neon berkedip-kedip di jalanan becek. Hujan tipis membasahi trotoar, memantulkan cahaya merah dan biru dari papan iklan. Narasi: Kota Langit Kelabu… tempat di mana uang menentukan hukum, dan kebenaran hanyalah barang dagangan. [Panel 2 – Medium Shot] Sebuah pintu kayu reyot di gang sempit. Catnya mengelupas, plakat kecil di atas pintu bertuliskan: "RAKA ALVARO – DETEKTIF SWASTA" dengan huruf yang pudar. Narasi: Dan di sudut paling kumuh dari kota ini… tinggal aku. [Panel 3 – Close Up] Raka, lelaki berusia akhir 20-an, rambut acak-acakan, mata lelah, mengenakan jas kusut dengan dasi longgar. Ia sedang duduk di meja kecil, memandangi secangkir kopi murahan. Raka (monolog): Kopi ini… pahitnya kayak tagihan sewa bulan ini. [Panel 4 – Dialogue] Telepon kuno di mejanya berdering. TRINGG… TRINGG… Raka mengangkat, masih setengah malas. Raka: "Detektif Raka… kalau ini soal suami kamu selingkuh, bayarannya tetap di muka." Suara di Telepon (misterius): "Aku punya kasus… tapi ini bukan soal perselingkuhan." [Panel 5 – Wide Shot] Pintu kantor terbuka perlahan. Masuklah seorang wanita bergaun hitam panjang, payung basah di tangannya. Wajahnya sebagian tertutup kerudung tipis. Narasi: Dan begitulah… semua cerita gila selalu dimulai dengan seorang wanita misterius. [Panel 6 – Medium Close] Wanita itu duduk, menatap Raka dengan mata tajam. Wanita: "Namaku Liora. Aku butuh bantuanmu untuk menemukan sesuatu… atau mungkin… menyelamatkan semuanya." [Panel 7 – Close Up Raka] Raka menaikkan satu alis, skeptis. Raka: "Kalau ‘menyelamatkan semuanya’ itu maksudnya menyelamatkan kucing kamu… tarifnya naik dua kali lipat." [Panel 8 – Cliffhanger] Liora meletakkan sebuah amplop cokelat di meja. Isinya: foto seorang pria yang wajahnya penuh darah, dan di belakangnya tertera catatan: "Jika kamu membaca ini, berarti waktumu tinggal 72 jam." Narasi: Saat itu, aku belum tahu… bahwa kasus ini akan menentukan kelangsungan hidup seluruh umat manusia di Bumi.

6 months ago

0
    ออนไลน์